Tampilkan postingan dengan label Dunia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dunia. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 September 2012

Gara-Gara Iddah, Pemimpin Yahudi Masuk Islam


Gara-Gara Iddah, Pemimpin Yahudi Masuk Islam 

REPUBLIKA.CO.ID, AMERIKA -- Robert Guilhem, pakar genetika dan pemimpin yahudi di Albert Einstein College menyatakan dengan tegas soal keislamannya. Dia masuk Islam setelah kagum dengan ayat-ayat Al-Quran tentang masa iddah wanita muslimah selama tiga bulan. Massa iddah merupakan massa tunggu perempuan selama tiga bulan, selama proses dicerai suaminya.

Seperti dikutip dari societyberty.com, hasil penelitian yang dilakukannya menunjukkan, massa iddah wanita sesuai dengan ayat-ayat yang tercantum di Alquran. Hasil studi itu menyimpulkan hubungan intim suami istri menyebabkan laki-laki meninggalkan sidik khususnya pada perempuan.

Dia mengatakan jika pasangan suami istri (pasutri) tidak bersetubuh, maka tanda itu secara perlahan-lahan akan hilang antara 25-30 persen. Gelhem menambahkan, tanda tersebut akan hilang secara keseluruhan setelah tiga bulan berlalu. Karena itu, perempuan yang dicerai akan siap menerima sidik khusus laki-laki lainnya setelah tiga bulan.
Bukti empiris ini mendorong pakar genetika Yahudi ini melakukan penelitian dan pembuktian lain di sebuah perkampungan Muslim Afrika di Amerika. Dalam studinya, ia menemukan setiap wanita di sana hanya mengandung sidik khusus dari pasangan mereka saja.
Penelitian serupa dilakukannya di perkampungan nonmuslim Amerika. Hasil penelitian membuktikan wanita di sana yang hamil memiliki jejak sidik dua hingga tiga laki-laki. Ini berarti, wanita-wanita non-muslim di sana melakukan hubungan intim selain pernikahannya yang sah.
Sang pakar juga melakukan penelitian kepada istrinya sendiri. Hasilnya menunjukkan istrinya ternyata memiliki tiga rekam sidik laki-laki alias istrinya berselingkuh. Dari penelitiannya, hanya satu dari tiga anaknya saja berasal dari dirinya.

Kamis, 30 Agustus 2012

Produk Tempo Doeloe Indonesia yang Masih Diproduksi Sampai Sekarang

Produk - produk ini adalah produk asli buatan dalam negeri, mereka sudah ada bahkan sejak Negara ini belum lahir (merdeka), melalui berbagai zaman, revolusi dan perubahan radikal bangsa ini, Produk - produk ini masih terus bertahan untuk tetap eksis di pasaran..

1. Permen Davos [1931]
SOEYATI Soekirman tak pernah luput membawa Davos. Nenek 68 tahun warga Banyumas ini sudah puluhan tahun menggemari permen itu. ”Orang-orang tua memang konsumen loyal kami,” kata Nicodemus Hardi, Managing Director Operasional PT Slamet Langgeng, produsen permen Davos. Permen ini dirintis oleh Siem Kie Djian pada 28 Desember 1931. Lokasi pabriknya tetap sama hingga kini: Jalan Ahmad Yani 67, Kelurahan Kandang Gampang, Purbalingga, Jawa Tengah. Perusahaan dilanjutkan anaknya, Siem Tjong An. Enam tahun berikutnya, bisnis diteruskan lagi ke anak dan menantu Tjong An: Toni Siswanto Hardi dan Corrie Simadibrata. Kini perusahaan tersebut dipimpin oleh Budi Handojo Hardi, generasi ketiga pendiri bisnis ini.

2. Wajik Week [1939]

SEMULA, pada 1939, Nyonya Ong Kiem Lien hanya memasak kue untuk dijual ke tetangga. Ada wajik, onde-onde, keripik tempe, rempeyek kacang, dan jadah (kue dari ketan dan kelapa parut). Usaha ini dilanjutkan oleh anaknya, Ong Gwek Nio, yang kemudian hanya berkonsentrasi pada wajik.


3. Siroop Tjap Buah Tjampolay [1936]
RASANJA sedap, baoenja wangi. Itulah yang tertera dalam kemasan sirup Tjap Buah Tjampolay. Minuman legendaris asal Cirebon ini pertama kali dibuat oleh Tan Tjek Tjiu pada 11 Juli 1936. Hingga kini kemasan dan labelnya tak berubah.

4. Sarang Sari [1934]

Botolnya hijau, mirip botol bir. Tulisan dalam kemasannya tak berubah sejak 75 tahun lalu: Limonadestroop. Sarang Sari, begitulah nama sirup berbotol serupa bir itu, bertahan di tengah gempuran minuman berkarbonat. Cikal bakal sirup ini dimulai dari De Wed Bijlsma, pengusaha asal Groningen, Belanda, yang mendirikan NV Conservenbedrijf de Friesche Boerin pada 1934.


5. Ting-ting Jahe [1935]

NJOO Tjhay Kwee menunggang sepeda pancal mengitari Pasuruan. Kala itu, tahun 1935, Njoo sedang merintis usaha kembang gula Sin A di Pasuruan, Jawa Timur. Kisah ini dituturkan Dyah Purwaningsih, General Manager PT Sindu Permata, perusahaan yang memproduksi ting-ting jahe. Ayu adalah cucu Njoo alias generasi ketiga pemilik perusahaan ini.

6. Tahu Yun Yi [1940]

DALAM bahasa Mandarin, yun yi artinya bermanfaat atau beruntung. Perusahaan tahu yang didirikan pada 1940 itu memang beruntung masih eksis hingga kini. Bisnis tahu Yun Yi dirintis oleh Liauw Hon Tjan di Jalan Jenderal Sudirman Belakang 231, Bandung. Pabrik tahu ini tak pernah berpindah hingga sekarang.

7. Teh Cap Botol [1940]

RIBUAN botol plastik hijau itu bergerak dalam irama teratur di atas jalur roda berjalan. Lalu, plop, plop, plop: letupan mesin memasangkan plastik kemasan ke satu per satu botol yang berisi teh amat panas. Antrean lantas menjalar ke mesin berikut yang memasangkan tutup botol. Dari sini jalur roda bergerak lagi menuju pengemasan akhir. Maka jadilah teh botol merek Joy Tea Green, yang siap dikirim ke jutaan konsumen di seluruh Indonesia serta mancanegara.


8. B29 [1930]

Menurun, tapi tak kehilangan pasar.
PASAR Pagi Jakarta, akhir 1930-an. Sekumpulan ibu-ibu yang sedang belanja di Toko Sewu Gunawan meriung bicara soal sabun. Sabun Cap Tangan, produk Unilever—ketika itu satu-satunya sabun cuci yang beredar di pasar—mendadak langka. Jikapun ada, harganya mahal. Para ibu mengeluh: mereka tak bisa mencuci baju, piring, bahkan mandi.


9. Dji Sam Soe [1913]

RUMAH kuno itu tak lagi berpenghuni. Pagarnya tertutup seng. Ketika didatangi Tempo tiga pekan lalu, tampak empat petugas bergantian menjaga rumah. Di rumah inilah Liem Seeng Tee, pendiri HM Sampoerna, mengawali sejarah pada 1927.
Beralamat di Jalan Ngaglik, Surabaya, rumah ini—selain menjadi tempat tinggal—dulunya berfungsi sebagai gudang tembakau dan pabrik rokok. Selama lima tahun Seeng Tee menguji berbagai campuran rempah dan cengkeh di rumah ini. Dji Sam Soe salah satu produknya. Dari rumah ini pula Dji Sam Soe mulai diproduksi secara masif.


10. Kopi Warung Tinggi [1878]

Beberapa kali berhenti berproduksi, tetap hidup berkat kepercayaan pelanggan. Dulu resep lisan, kini tersimpan di komputer.
BATAVIA, 1878. Restoran di tepian Moolen Vliet Oost—kini Jalan Hayam Wuruk— Jakarta, itu berbeda dengan bangunan lain di sekitarnya. Tampak lebih bagus, lebih besar, dan tinggi. Masyarakat di tepian Ciliwung lalu menyebutnya Waroeng Tinggi. Adalah Liaw Tek Soen, perantau asal Tiongkok, yang membangun warung itu bersama istrinya.


11. Kecap Bango [1928]

Kemasan diremajakan, rasa dipertahankan, penetrasi pasar diperkuat. Jurus inovatif memperpanjang umur.
BANGO itu terbang tinggi. Dari jago lokal, dia menjadi bintang di tingkat nasional. Bermula dari pojok kampung di daerah Benteng, Tangerang, pada 1928, kini sang Bango mudah dijumpai di toko kelontong di hampir seluruh penjuru Indonesia. Delapan puluh satu tahun silam, suami-istri Tjoa Pit Boen (Yunus Kartadinata) dan Tjoa Eng Nio mengawali cikal bakal Kecap Bango di rumah mereka di Benteng. Sayang, jejak awal sudah amat samar. Napak tilas Tempo di kawasan Benteng tak menemukan sarang pertama sang Bango.

12. BATA

 
BERJAM-jam sepatu berbahan kanvas itu mengendap di ember penuh air. Basah kuyup, tapi tetap baik kondisinya. Wilfried Tampubolon, pemilik sepatu itu, cuma bisa memandanginya dengan kecewa. Pupus harapannya untuk mendapat sepatu baru. ”Dua tahun sepatu saya tidak diganti, makanya sepatu itu sengaja saya rendam,” kata Wilfried tertawa mengenang kenakalannya semasa kanak-kanak. Ibunya hanya mau membelikan sepatu baru kalau sepatu lama sudah rusak.


13. Batik Oey Soe Tjoen (1925)

 
PEMBUATAN selembar batik Oey Soe Tjoen bak ritual panjang. Awalnya, Muayah, pekerja di situ, menggoreskan lilin pada motif daun. Ia lalu menyerahkan hasil kerjanya kepada sang bos, Widianti Widjaja, yang lalu memeriksanya dengan teliti. Bila dianggap oke, kain akan diambil alih pekerja lain. Ia meneruskan pekerjaan untuk motif lain.

Super Heboh! Pasukan Dajjal Telah Muncul!

Benarkah bala tentara Dajjal telah muncul? Pertanyaan ini mencuat ketika Israel memperkenalkan “Kfir” yang merupakan brigade elit Israeli Defenses Force (IDF).


Brigade ini dibentuk sebagai “900th Brigade” atau Brigade ke-900, yang masuk dalam unit paling elit satuan infanteri IDF di bawah Kementerian Pertahanan Israel.
Brigade Kfir berada di bawah komando Divisi 162 (Utzvat Haplada). Nama asli Brigade tersebut adalah “KFR”, karena sistem huruf Ibrani tidak mengenal huruf hidup.
Pasukan ini juga merupakan kesatuan anti teroris yang paling efektif di negara Israel. Bukan itu saja, perusahaan penerbangan Israel bernama IAI yang bekerja sama dengan agen pemerinta juga telah meluncurkan pesawat tempurnya yang diberi nama Kfir.
Mereka sendiri mestinya sudah tahu benar dengan arti kata Kfir tersebut. Lantas apakah kesombongan lah yang membuat mereka menamakan dirinya Kafir (tidak percaya kepada tuhan) atau alasan lainnya?
Nabi Muhammad SAW pernah bersabda bahwa ciri-ciri fisik Dajal, selain bermata satu, di jidatnya juga ada aksara Arab “Ka Fa Ra” atau Kafir.
Kafir berarti “Tidak mempercayai”. Dajjal dan para pengikutnya memang tidak percaya pada Allah Swt, karena mereka lebih percaya pada Iblis atau Lucifer.
Di hadist lain, Rasul juga mengatakan bahwa Dajjal akan memimpin pasukan yang berjumlah 70,000 pasukan. Dan di hadist lainnya pula disebutkan bahwa Dajjal hanya memiliki satu buah mata. Coba perhatikan gambar di bawah ini :

Jadi benarkah Pasukan Dajjal telah muncul ? Apa memang kiamat sudah dekat ? Yang pasti hanya Allah SWT yang tahu...

sumber : http://angkaraku.blogspot.com/2012/03/super-heboh-pasukan-dajjal-telah-muncul.html

Lelang Medali Bantu Atlet Tua yang Jadi Tukang Becak

Ooh prajurit, ooh pahlawan. Kau t'lah dilupakan. Tiada bintang, tanda jasa. Imbalan bakti dan juangmu.
Sepenggal syair lagu "Pahlawan yang Dilupakan" hasil daur ulang milik The Gembels oleh Boomerang jadi gambaran yang tepat tentang banyaknya pahlawan di negeri ini yang 'habis manis sepah dibuang'.


Di dunia olah raga, banyak atlet yang pernah berjasa menyumbang medali dan mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Sedihnya, saat tua jasa mereka menguap begitu saja. Lebih parah lagi, harus berjuang untuk bisa makan menyambung hidup.
Suharto, atlet sepeda peraih emas yang kini jadi tukang becak

Tahun 2011 saat gempita SEA Games XXVI di Palembang, sempat merebak di berbagai media tentang nasib mantan atlet yang hidup kesusahan di hari tua. Sebutlah dua contoh yakni Marina Segendi, mantan atlet pencak silat peraih medali emas saat SEA Games di Filipina tahun 1981. Selepas menjadi atlet, Marina sudah tidak mempunyai pekerjaan tetap. Akhirnya harus menjadi supir taksi. Selepas itu, menekuni profesi sebagai pedagang kue, nasi dan menjadi peran pembantu di film.

Nama lainnya adalah Suharto, mantan peraih medali emas balap sepeda di SEA Games 1979. Ia kini harus menarik becak untuk menghidupi kesehariannya bersama istrinya.

"Uang dari hasil menarik becak hanya cukup untuk makan keluarga. Kalau ada sisanya kami tabung untuk bayar sewa kamar kos," ujarnya saat diwawancarai Republika.

Melihat realitas tersebut, Nugroho B Ontowirjo (61),  mantan atlet sepeda nasional tergerak hatinya untuk membantu. Ia bertekad dan siap memberikan berbagai  medali yang pernah diraihnya untuk diberikan kepada siapapun mantan atlet sepeda yang hidupnya tidak bahagia. Semasa menjadi atlet Nugroho adalah peraih emas pada event HUT ISSI yang ke-10.


Nugroho dengan medali yang ingin dilelangnya
Medali perak ia raih pada saat event balap sepeda POPSI (Pekan Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia). Sedangkan medali perunggu diraihnya pada saat event Pekan Olahraga Mahasiswa yang berlangsung di Palembang, Sumatera Selatan. Selain itu, berbagai piagam juga telah diraih Nugroho saat masih jaya menggowes sepeda.  Semua piagam-piagam itu masih terpampang rapih di ruangan depan rumahnya.

Nugroho berniat melelang berbagai medali koleksinya untuk disumbangkan ke mantan atlet sepeda.

Ketika masih berjaya, Nugroho seolah menjadi  momok atau ketakutan bagi atlet lain. Tidak heran, ketika berlaga pada suatu event, nama Nugroho selalu ditanyakan oleh atlet lain. Mereka menanyakan apakah Nugroho ikut berlaga atau tidak. Jika Nugroho turut berlaga, maka atlet lain akan kepayahan dan kewalahan sehingga tidak akan menang.

Nugroho mengawali karirnya sejak masih duduk di bangku kelas 2 SMP 19 Kebayoran Baru Jakarta Selatan.  Ia melepaskan karirnya sebagai atlet sepeda, ketika memasuki bangku kuliah. Ia lebih memilih menjadi mahasiswa arsitek di Universitas Trisakti Jakarta dibandingkan atlet sepeda.

Memilih menekuni pendidikan dibanding atlet juga bukan tanpa alasan. Apalagi, kala itu menjadi atlet tidak bisa menjadi pilihan hidup yang bisa menggembirakan. Karena waktu itu, atlet yang berprestasi juga tidak mendapatkan uang atau bonus. Yang didapat hanya piagam atau piala saja.

“Kalau sudah ngetop ya udah selesai. Kalau sekolah kan bisa hidup terus,” tandasnya.

Wah, ujungnya memang sekolah lalu bekerja tetap menjadi pilihan paling aman untuk hari tua. Namun kalau sudah begini, apa masih penting arti sebuah prestasi walau demi nama bangsa? Atau mungkin ini jadi indikator nyata semakin terpuruknya nama Indonesia di bidang olah raga? Karena saat tua, toh, akhirnya tetap terbuang.

Bagaimana menurut kamu???


Dikutip : http://www.apakabardunia.com/2012/08/lelang-medali-bantu-atlet-tua-yang-jadi.html